BAGI sejarawan, sastrawan dan ilmuwan di dunia, khususnya yang
mengkaji Islam di Asia Tenggara dan Aceh, akan menemui nama-nama seperti,
Hamzah Fansuri, Abdul Jamal, Hasan Fansuri dan Abdurrauf bin Ali al-Jawi
al-Fansuri, yang hidup dan menjadi orang penting di Kesultanan Aceh abad ke-16
dan 17 M.
Mayoritas gelar al-Fansuri diberikan oleh generasi setelahnya,
sedangkan as-Singkili oleh para peneliti (researchers) pasca-kolonial, saat
Belanda membagi Aceh menjadi empat (afdeeling). Dan kini, di masyarakat lebih
umum menisbah ke tempat, Fansuri, sebab merujuk kepada karya-karyanya.
Hamzah Fansuri (dua muridnya Abdul Jamal dan Hasan Fansuri) dan
Abdurrauf Fansuri merupakan tokoh-tokoh yang terekam jejaknya melalui
catatan-catatan karyanya hingga kini.
Walaupun belum
sempurna biografi sosok ulama tersebut, tetapi cukup memberikan informasi
kepada kita bahwa nilai-nilai keislaman dan pengetahuan agama yang diperolehnya
berasal dari di Fansur, salah satu wilayah Singkil saat itu.
Ali Hasjmy dan
Aboebakar pun menyebut bahwa di daerah Singkil telah berdiri lembaga pendidikan
dayah terbesar pada abad ke-16, tepat di era awal Kesultanan Aceh Darussalam. Pantai-pantai
indah dan mudah disinggahi kapal besar dan kecil menjadi pilihan utama para
pelaut dan pedagang internasional. Interaksi ini memang hampir terjadi seluruh
wilayah Kepulauan Melayu Nusantara, termasuk Singkil.
Perihal tersebut
merujuk kepada beberapa dokumen Eropa awal, terutama Portugis, dan peninggalan
nisan-nisan Islam tertua di wilayah Singkel yang sedikit banyak serupa
(sejenis) dengan nisan-nisan di Lamuri Aceh Besar dan Pasai (Aceh Utara).
Peninggalan tersebut menggambarkan bahwa Islam di pantai Barat Aceh mungkin
saja berawal dari salah satunya wilayah Singkil.
Tidak banyak yang
mencatat bahwa kolonial Belanda telah mengerogoti Aceh lebih awal dari pantai
Barat-Selatan Aceh, jauh sebelum memerangi Aceh tahun 1873. Misalnya, pada
tahun 1693/1694 M, Belanda ikut campur memaksakan kehendak untuk penghapusan
sifat ganda kerajaan di Aceh.
Saat itu,
Singkil, Barus dan Trumon dan sekitarnya merupakan kerajaan-kerajaan kecil di
bawah otoritas Kesultanan Aceh Darussalam. Sistem sejenis monarki
demokrasi-federasi ini agak menganggu bagi Belanda dalam menjalankan misinya.
Seiring waktu,
Barus terus merosot ekonomi dan pelabuhannya daripada wilayah lainnya. Sisi
lain, ikut andil Inggris yang membuka pangsa pelabuhan baru di wilayah Aceh
(Meulaboh, Banda Aceh) dan Minang, membuat Barus semakin ditinggalkan. Sudah
kebiasaan orang Aceh meminta bantuan ke luar negeri, pada tahun 1820-an Barus
meminta lagi bantuan dari Belanda, kali itu untuk melawan orang (kerajaan) Aceh
dari kota Tapus.
Pasukan Belanda
benar datang pada tahun 1839-1840, mengusir orang Aceh, dan memasukkan Barus ke
dalam wilayah territorial Hindia Belanda, dengan akibat praktis menghentikan
segala inisiatif dari raja-raja Barus serta peran politik mereka di tengah
begitu banyak pihak yang bermusuhan. Suatu penyesalan dan kerugian besar bagi
Barus saat itu.
Celakanya,
kolonial Belanda membangun garsinun (benteng pertahanan) di wilayah tersebut
sekaligus mencaplok wilayah Singkil, membangun perkantoran, sekolah dan
perumahan Belanda secara permanen.
Siasat
geo-politik (geografi-politik) adalah salah satu cara mengadu domba satu pihak
dengan lainnya untuk terus berkecamuk dalam konflik. Oleh karena itu, Hindia
Belanda mengeluarkan mengeluarkan Besluit (Surat Keputusan) membelah Aceh
menjadi empat bagian (Afdeeling) (18 September 1899) (Aceh Besar, Aceh Barat,
Aceh Timur, dan Aceh Utara) guna menghapus sistem pemerintahan kerajaan Aceh.
Sejak awal, kolonial
Belanda menerapkan 19 hukum adat Belanda (et Adatrecht van Nederlandsch-Indië),
antaranya menyebarkan agama kepercayaannya di wilayahnya, membangun tempat
peribadatan, dan menguasai perekonomian setempat dan mengangkat uleebalang
(hulubalang) dan tokoh agama di Aceh yang pro-kebijakan Belanda.
Termasuk pada
tahun 1852-1857 H.N van der Tuk saat tinggal di Barus menerjemahkan kitab Injil
ke dalam bahasa Toba atas pesanan Masyarakat Alkitab Belanda. Naskah tersebut
kini tersimpan di perpustakaan Universitas Leiden Belanda di koleksi van der
Tuk (VdT).
Di sisi lain,
Kerajaan Aceh, Singkil dan Trumon terus menggempur Belanda atas diskriminasi
muslim di daerah tersebut dan mempertahankan wilayah-wilayah lain di Singkil
dan perbatasan lainnya.
![]() |
| Ilustrasi pasukan kerajaan singkil. |
1. Gempa Dahsyat Singkil 16 Februari 1861
Peperangan
berkepanjangan berhenti pada tahun 12 Februari 1861 (1 Syaban 1277 H) di di
Singkil dan sekitarnya dilanda gempa tektonik yang dahsyat. Empat hari kemudian
(16 Februari 1861), gempa berkekuatan besar 8.5 skala richter disertai dengan
tsunami melanda barat Sumatra dan Aceh.
Bencana yang
kedua lebih banyak direkam oleh para ilmuwan kebencanaan di dunia karena berada
tepat di Sunda Megatrust, menurut laporan lebih dari 2000 orang meninggal,
menghancurkan seluruh pesisir pantai Singkil, Barus, Mentawai, Sumbar dan
sekitarnya..
Dalam catatan
Belanda, akibat dua bencana tersebut, seluruh bangunan Belanda dan benteng
pertahanan hancur, akhirnya Belanda pindah ke Medan. Singkil ditinggalkan. Ini
adalah salah satu faktor kenapa Belanda tiba-tiba menyerang Aceh tahun 1873
langsung ke sentral kerajaan Aceh, di Banda Aceh. Pada saat Aceh belum pulih
dari bencana, dan banyak korban dari orang Aceh.
Ulama-ulama yang
berkiprah di pendidikan banyak gugur di medan perang di wilayah Barat Aceh.
Lembaga-lembaga pendidikan sudah hancur akibat bencana. Kota Singkil sebagai
salah satu kota masuknya Islam di wilayah Barat Aceh mulai ditinggalkan,
masyarakat migrasi ke daerah-daerah lain yang lebih aman, terutama kota-kota
besar, seperti Meulaboh, Medan, Pasai, Lhoksamow (Lhokseumawe) dan Banda Aceh.
Sayangnya, tanpa
disadari akibat konflik dan perselisihan politik kekuasaan, banyak ulama lahir
di wilayah ini tidak terekam dengan baik, sehingga khazanah ilmu dan peradaban
musnah seiring terlupakan tokoh-tokoh penyebar agama.
Hal
serupa juga terjadi di Pasai, kerajaan Islam yang megah berdiri lebih dua abad,
tapi kini tidak banyak orang Aceh (generasi sekarang) tahu nama-nama ulama dari
Pasai.
[PENULIS HERMANSYAH, MA.Hum, Adalah
dosen Bidang Teks Klasik dan Kajian Naskah pada Prodi SKI Fakultas Adab dan
Humaniora UIN Ar-Raniry, dan Peneliti Manuskrip]

No comments:
Post a Comment